Orientasi Keagamaan Mahasiswa: Antara Liberal, Moderat, dan Fundamentalis



Orientasi Keagamaan Mahasiswa: Antara Liberal, Moderat, dan Fundamentalis

Bagaimana mahasiswa di perguruan tinggi negeri memahami dan menjalankan agama mereka? Apakah mereka cenderung berpikir lebih liberal, moderat, atau bahkan fundamentalis dalam beragama? Sebuah penelitian menarik yang dilakukan di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta mengungkap bagaimana orientasi, sikap, dan perilaku keagamaan mahasiswa terbentuk dan berkembang.

Agama dan Identitas Mahasiswa

Agama memiliki peran penting dalam kehidupan seseorang. Namun, pemaknaannya bisa sangat beragam. Ada mahasiswa yang melihat agama sebagai pedoman hidup yang fleksibel dan terbuka terhadap perubahan. Ada pula yang menganggap agama harus dijalankan secara ketat tanpa kompromi. Secara umum, penelitian ini menemukan bahwa orientasi keagamaan mahasiswa dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok utama:

  1. Kelompok Liberal – Cenderung memiliki pemikiran terbuka, kritis, dan lebih mengutamakan nilai-nilai universal dalam beragama.
  2. Kelompok Moderat – Berada di tengah-tengah, menggabungkan aspek tradisional dan modern dalam memahami agama.
  3. Kelompok Fundamentalis – Memandang agama sebagai totalitas yang harus diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan.

Peran Keluarga dan Lingkungan dalam Membentuk Keagamaan

Latar belakang keluarga, pendidikan agama, serta lingkungan sosial memiliki dampak besar dalam membentuk orientasi keagamaan mahasiswa. Seorang mahasiswa yang dibesarkan di lingkungan pesantren mungkin akan memiliki pandangan yang berbeda dibandingkan dengan mereka yang tumbuh dalam keluarga dengan pemikiran lebih terbuka.

Penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi dengan teman sebaya di perguruan tinggi juga berpengaruh besar terhadap perkembangan keagamaan mahasiswa. Banyak dari mereka mengalami perubahan cara pandang setelah memasuki dunia kampus, baik ke arah yang lebih liberal maupun lebih konservatif.

Bagaimana Sikap Mahasiswa terhadap Perbedaan?

Sikap terhadap perbedaan dalam beragama menjadi indikator penting dalam memahami orientasi keagamaan seseorang.

  • Mahasiswa liberal umumnya lebih terbuka terhadap perbedaan. Mereka tidak mudah menghakimi dan lebih menghargai pluralitas agama serta keyakinan orang lain.
  • Mahasiswa moderat memiliki sikap yang relatif toleran, tetapi tetap berpegang pada keyakinan mereka sendiri.
  • Mahasiswa fundamentalis cenderung memiliki prasangka lebih tinggi terhadap kelompok lain yang berbeda, baik dalam lingkup internal Islam maupun terhadap agama lain.

Antara Ritual dan Praktik Sosial

Menariknya, mahasiswa dengan kecenderungan fundamentalis umumnya memiliki ketaatan tinggi dalam menjalankan ritual ibadah seperti salat, puasa, dan membaca Al-Qur'an. Sementara itu, mahasiswa liberal lebih menekankan aspek moral dan sosial dari agama dibandingkan dengan ritual keagamaan. Adapun mahasiswa moderat berada di antara keduanya.

Namun, dalam hal kepedulian sosial, semua kelompok memiliki kecenderungan untuk berbuat baik, meskipun dengan motivasi yang berbeda. Mahasiswa liberal lebih fokus pada aspek kemanusiaan secara universal, sementara mahasiswa fundamentalis lebih cenderung membantu sesama Muslim sebagai bentuk penguatan akidah.

Kesimpulan: Agama, Pilihan, dan Dinamika Keberagamaan

Penelitian ini membuktikan bahwa mahasiswa, dengan segala latar belakang dan pengalaman mereka, memiliki dinamika keagamaan yang terus berkembang. Kampus menjadi ruang yang mempertemukan berbagai ideologi keagamaan dan mendorong mahasiswa untuk lebih reflektif terhadap keyakinan mereka sendiri.

Terlepas dari perbedaan yang ada, satu hal yang pasti: agama tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan mahasiswa, baik sebagai pedoman hidup, nilai moral, maupun sebagai identitas sosial.

Bagaimana dengan Anda? Apakah orientasi keagamaan Anda lebih liberal, moderat, atau fundamentalis?


Sumber:
Aryani, S. A. (2016). Orientasi, Sikap dan Perilaku Keagamaan (Studi Kasus Mahasiswa Salah Satu Perguruan Tinggi Negeri di DIY). Religi: Jurnal Studi Agama-Agama, 11(1), 59-80.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nilai dan Konsep dalam Berbagai Agama: Pemahaman yang Menghubungkan Umat Manusia

Sejarah Perkembangan Pemikiran Etika: Dari Yunani Kuno hingga Zaman Modern

Fitrah Manusia dalam Islam: Konsep dan Peranannya dalam Kehidupan