Etika Religius Ibnu Athā’illah Al-Sakandarī: Panduan Spiritual untuk Kehidupan Modern



Etika Religius Ibnu Athā’illah Al-Sakandarī: Panduan Spiritual untuk Kehidupan Modern

Dalam dunia yang serba cepat dan penuh tantangan ini, sering kali kita mencari ketenangan batin dan makna yang lebih dalam dalam hidup. Salah satu tokoh sufi yang pemikirannya masih relevan hingga saat ini adalah Ibnu Athā’illah al-Sakandarī. Beliau adalah seorang ulama sufi dari abad ke-13 yang dikenal melalui karyanya Al-Hikam, kumpulan aforisme atau kata-kata bijak yang mendalam tentang perjalanan spiritual manusia.

Lalu, bagaimana etika religius menurut Ibnu Athā’illah al-Sakandarī dapat menjadi pedoman dalam kehidupan kita saat ini? Mari kita bahas lebih dalam.


Mengenal Ibnu Athā’illah al-Sakandarī

Ibnu Athā’illah adalah seorang sufi dari tarekat Syadziliyah yang terkenal dengan pemikirannya tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Ia menekankan pentingnya ikhlas, tawakal, dan muhasabah (introspeksi diri) dalam menjalani kehidupan.

Ajarannya tidak hanya berbicara tentang ibadah, tetapi juga tentang bagaimana seseorang harus menjalani hidup dengan penuh kesadaran spiritual. Dalam karyanya, beliau banyak menyoroti bagaimana manusia sering kali terjebak dalam urusan duniawi dan melupakan dimensi ketuhanan dalam setiap aspek kehidupannya.


Konsep Etika Religius Ibnu Athā’illah

Etika religius menurut Ibnu Athā’illah al-Sakandarī bukan sekadar aturan atau hukum agama yang kaku, tetapi lebih pada bagaimana seseorang menata hatinya agar selalu dekat dengan Allah. Beberapa konsep kunci dalam etika religiusnya antara lain:

1. Tawakal: Berserah Diri kepada Allah

Ibnu Athā’illah menekankan bahwa manusia harus berserah diri sepenuhnya kepada Allah setelah berusaha sebaik mungkin. Dalam Al-Hikam, ia mengatakan:

"Keinginanmu untuk mewujudkan sesuatu padahal Allah belum menentukannya adalah bentuk kealpaan dari kesadaran akan takdir."

Dalam konteks modern, ini bisa diartikan sebagai sikap menerima dan tidak terlalu khawatir terhadap sesuatu yang berada di luar kendali kita. Misalnya, dalam dunia kerja atau bisnis, kita tetap harus berusaha maksimal, tetapi hasil akhirnya tetap kita serahkan kepada Tuhan.

2. Ikhlas: Menjalani Hidup Tanpa Pamrih

Ikhlas dalam pandangan Ibnu Athā’illah berarti melakukan segala sesuatu bukan untuk pujian atau penghargaan dari manusia, tetapi karena Allah.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita mencari validasi dari orang lain—entah itu dalam pekerjaan, media sosial, atau hubungan sosial. Ajaran ini mengingatkan kita untuk tetap berbuat baik tanpa mengharapkan imbalan duniawi.

3. Muhasabah: Selalu Mengintrospeksi Diri

Muhasabah atau introspeksi adalah kunci dalam perjalanan spiritual. Ibnu Athā’illah menekankan bahwa seseorang harus selalu mengevaluasi niat dan perbuatannya.

Dalam dunia modern yang penuh distraksi, kita sering lupa untuk berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: Apakah yang saya lakukan ini benar-benar membawa manfaat? Apakah saya semakin dekat dengan Tuhan atau justru menjauh?

4. Zuhud: Menjaga Hati dari Cinta Berlebihan terhadap Dunia

Ibnu Athā’illah tidak mengajarkan kita untuk meninggalkan dunia sepenuhnya, tetapi lebih pada bagaimana tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidup.

Artinya, kita boleh memiliki kekayaan, jabatan, atau kesuksesan, tetapi hati kita tidak boleh terpaut pada hal-hal tersebut. Segala sesuatu yang kita miliki harus tetap dipandang sebagai titipan yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali.


Relevansi Ajaran Ibnu Athā’illah dalam Kehidupan Modern

Di era digital dan media sosial, ajaran Ibnu Athā’illah menjadi semakin relevan. Kita hidup dalam masyarakat yang serba instan, penuh tekanan sosial, dan sering kali merasa cemas dengan masa depan. Pemikiran beliau bisa menjadi pedoman agar kita tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal duniawi yang sifatnya sementara.

Beberapa contoh penerapan ajaran beliau dalam kehidupan modern:

  • Saat merasa cemas tentang masa depan, ingatlah konsep tawakal—lakukan yang terbaik dan serahkan hasilnya pada Allah.

  • Ketika merasa iri dengan pencapaian orang lain di media sosial, ingatlah konsep ikhlas—lakukan segala sesuatu karena Allah, bukan karena ingin diakui orang lain.

  • Jika merasa hidup semakin jauh dari nilai-nilai spiritual, praktikkan muhasabah—luangkan waktu untuk refleksi diri dan perbaiki apa yang perlu diperbaiki.


Kesimpulan

Etika religius Ibnu Athā’illah al-Sakandarī mengajarkan kita untuk selalu mengutamakan hubungan dengan Allah di atas segalanya. Konsep tawakal, ikhlas, muhasabah, dan zuhud bukan hanya relevan dalam konteks keislaman, tetapi juga sebagai panduan bagi siapa saja yang ingin menjalani hidup dengan lebih tenang dan bermakna.

Dalam dunia yang penuh ketidakpastian ini, pesan-pesan spiritual dari Ibnu Athā’illah bisa menjadi obat bagi kegelisahan jiwa dan membawa kita lebih dekat kepada makna hidup yang sejati.


Sumber: Fermadi, B. (2018). Konsep Etika Religius Ibnu Athā’illah Al-Sakandarī. Asy-Syari’ah: Jurnal Hukum Islam, 4(2), 127-150.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nilai dan Konsep dalam Berbagai Agama: Pemahaman yang Menghubungkan Umat Manusia

Sejarah Perkembangan Pemikiran Etika: Dari Yunani Kuno hingga Zaman Modern

Fitrah Manusia dalam Islam: Konsep dan Peranannya dalam Kehidupan